Waktu Terus berlalu tidak terasa sudah 4 tahun lamanya saya berada di Makassar, beberapa ada yang bilang sudah 5 tahun, betapa relativnya sang waktu. Satu hal yang pasti adalah rasa syukur Alhamdulillah telah menyelesaikan studi saya dalam waktu 3 tahun 10 bulan di program studi Manajemen, Universitas Negeri Makassar dengan hasil memuaskan, Mama dan Bapak ini Untukmu.
Finally, setelah perjuangan selama hampir 4 tahun untuk wisudanya sendiri pada saat itu di bulan agustus diadakan secara daring ini adalah pertama kalinya dalam sejarah kampus UNM melaksanakan wisuda secara daring karena kondisi pandemi Covid-19 waktu itu, namun itu tidak mengurangi kesakralan wisuda yang jelas secara de facto dan de jure saya telah lulus, heheh.
Betapa cepat waktu berlalu, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya dan tidak akan pernah kembali. saya masih ingat betul sekitar 4 tahun yang lalu saat menerima email perihal pengumuman kelulusan SNMPTN, dengan cukup cemas dan antusias saya membuka pengumuman kelulusan itu di website dan alangkah bahagianya saya pada saat itu, syukur Alhamdulillah saya diterima Masuk kampus Universitas Negeri Makassar
Saat itu perasaan campur aduk antara senang, sedih dan bimbang. senang karena impian untuk belajar Manajemen di kampus Impian Tercapai, sedih karena harus pisah dari keluarga, dan bimbang karena masih tidak yakin 100% untuk berangkat ke Makassar, keluarga juga seperti berat melepas saya.
Tapi saya sepenuhnya sadar bahwa hidup itu pilihan. kita harus berani meninggalkan zona nyaman kita, karena tidak ada pertumbuhan di zona nyaman dan tidak ada kanyamanan di zona pertumbuhan, kita harus meninggalkan zona nyaman untuk terus berkembang.
Saat itu saya dihadapkan 2 pilihan. pertama, berangkat kemakassar dan meninggalkan zona nyaman saya jika ingin tumbuh dan berkembang. Kedua, tetap berada dizona nyaman tapi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang akan hilang. Kalau ikut kata hati ingin berada di zona nyaman tapi bisa tetap tumbuh dan berkembang. tapi tidak mungkin ada kondisi ideal seperti itu toh? tidak mungkin segala sesuatu didunia ini berjalan 100% sesuai kehendak kita, untuk mendapatkan sesuatu kita harus mengorbankan sesuatu.
Akhirnya saya memilih opsi kedua, meninggalkan zona nyaman untuk berjuang mengejar mimpi saya. seperti seorang prajurit yang berperang dan kapalnya sudah dibakar oleh musuh. saat itu tidak ada lagi jalan mundur ke belakang dan satu-satunya jalan adalah maju kedepan. saat saya sudah memutuskan opsi kedua, maka saya berkewajiban untuk menyelesaikannya dengan baik.
Makassar 19 Agustus 2022
Reski Putra Utama, S.M
Ig : @rskprtmaaa__ Email : utamareskiputa@gmail.com
