Sore itu di awal bulan Oktober. Seperti beberapa hari sebelumnya, hujan selalu datang lebih awal, saat
semua orang sedang mengidam-idamkan langit sore beserta keindahan senjanya.
Sepertinya warna jingga menjadi warna favorit bagi mereka yang menyukai keelokkan
semesta. Sesaat setelah hujan mulai meredah, saya pun seketika melihat gawai
milik saya yang menunjukkan ada sebuah pesan singkat dari seorang teman
perempuan. Singkatnya pesan itu berisikan kabar darinya yang telah menunggu
saya di sebuah kafetaria dengan maksud mengajak saya untuk bertemu sekaligus
bercerita mengenai pengalaman hidupnya selama 4 tahun belakangan.
Wajar saja ia sangat bersemangat untuk pertemuan tersebut, karena kenyataannya dalam 4 tahun belakangan ini kami tidak bertemu satu sama lain. Hal ini disebabkan karena ia harus melanjutkan studi Sarjananya di luar kota. Serupa dengannya, saya menjadi bersemangat untuk menghadiri pertemuan tersebut, karena seingat saya bahwa teman saya tersebut terakhir kali bercerita dengan saya tentang berita diterimanya dia di sebuah kampus negeri terbaik. Di satu sisi, ia juga bercerita tentang seorang laki-laki yang menarik perhatiannya. Saya benar-benar penasaran tentang cerita yang ia bawa selama 4 tahun belakangan ini.
Apa yang diceritakan oleh teman saya tersebut nyatanya menjadi menarik setelah di saat sedang asik bercerita dengan ekspresi alami yang ia punya, saya perlahan-lahan mengingat sebuah buku yang berjudul How To Fix Broken Heart yang terbit pertama kali pada tahun 2018 – yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Bagaimana Menyembuhkan Patah Hati – karya dari Guy Winch seorang psikolog asal Amerika yang kerap menggeluti isu-isu kesehatan mental, termasuk patah hati. Saya belum lama ini telah menamatkan buku Winch tersebut dan memang berencana untuk mencari medium untuk dijadikan tempat berbagi isi buku itu. Tak dapat disangkal bahwa buku Winch –dengan sampul berwarna biru tersebut – memang menjadi salah satu buku yang menyita perhatiaan kebanyakan orang yang sedang ingin belajar menyembuhkan patah hati. Saya pikir cukup tepat untuk menyampaikan isi buku Winch tersebut di sela-sela percakapan kami, agar percakapan tersebut cenderung menjadi lebih produktif dan tidak hanya menjadi sebatas percakapan yang membosankan. Mari kita lihat seberapa relevannya isi buku yang ditulis oleh Winch tersebut dengan percakapan yang sedang dilakukan oleh kami berdua.
Kegagalan Sistem
Pendukung
“Hei, mereka seharusnya mulai menyadari ada dampak buruk yang dihadapi oleh beberapa orang saat sedang patah hati. Seperti yang dijelaskan oleh Winch dalam How To Fix Broken Heart bahwa patah hati itu dapat menimbulkan intensitas rasa sakit emosional hingga mengambil alih pikiran kita dan bahkan tubuh kita secara totalitas”, ucapku kepadanya untuk menanggapi curhatannya. “Sepertinya kamu barusan menyebutkan sebuah judul buku. Aku jadi tertarik untuk membacanya. Untuk berjaga-jaga agar tidak mengulangi cara pemulihan yang salah”, timpalnya. “Aku pikir, apa yang kamu sampaikan sebelumnya sangat erat kaitannya dengan kegagalan sistem pendukung”, kataku kepadanya. “Kegagalan sistem pendukung?. Sepertinya benar, tapi kegagalan sistem pendukung itu mungkin tidak hanya disebabkan karena mereka kurang berempati kepadaku tetapi boleh saja karena perilaku mendesak yang aku lakukan kepada mereka”, timpalnya.
“Saya kerap mengirim pesan kepada mereka untuk mendengar keluhan saya”, ujar teman saya tersebut, “atau setidaknya setiap 3 malam sekali, tepat di jam 12 malam, saya menghubungi salah satu dari mereka untuk mendengarkan suara tangisan saya”. Tampaknya kegagalan sistem pendukung disebabkan oleh dua arah, setidaknya-tidaknya dalam tahapan pertama untuk memulihkan seseorang dari patah hati, baik kita dan sistem pendukung harus benar-benar saling memahami satu sama lain. Sistem pendukung harus memahami bahwa saat kita sedang patah hati, kita hanya butuh empati dan kasih sayang. Sedangkan dari sisi kita, ada suatu keharusan untuk memberikan ruang kepada sistem pendukung untuk mengaktualisasikan rasa empati dan kasih sayang yang mereka punya tanpa ada tendensi untuk membebani mereka.
Semuanya Berawal Dari Diri Sendiri
“Patah hati adalah mesin paradoks psikologis yang tiada habisnya”, kata Winch dalam bukunya. Saya sepakat dengan hal itu, dimana pada kenyataannya kalau kita memperhatikan bahwa keinginan kita untuk mengakhiri penderitaan emosional yang disebabkan oleh patah hati tidak berbanding lurus dengan dorongan pikiran kita yang memanjakan perilaku kita untuk kembali dan kembali ke situasi ideal yang kita inginkan. Padahal kita dituntut untuk memulai semuanya dengan perasaan lebih terbuka dan berani menyatakan kepasrahan atas apa yang terjadi. Kepasrahan ini bukan berarti upaya pelemahan diri, tetapi ini menjadi langkah awal untuk kita memulih diri atau tepatnya menyembuhkan diri dari patah hati.
“Semua itu saya mulai dengan membatasi interaksi dengan dirinya dan membiasakan diri untuk tidak memaknai lagu Tulus yang berjudul Hati-Hati Di Jalan secara berlebihan”, ucap teman saya yang menjelaskan awal dia mulai memulihkan dirinya, “membiasakan untuk menerima keadaan baru, berhenti menguntit dirinya, membuang semua perasaan yang saya damba-dambakan kepadanya. Saya ingin mental saya membaik. Orang-orang yang datang berempati kepada saya memberikan saya kekuatan untuk menghentikan dorongan dari pikiran saya untuk tetap candu kepadanya. Ini sulit, tapi semuanya berawal dari diri saya sendiri”. Setelah dia mengucapkan hal tersebut, saya menjadi cukup percaya diri untuk mengatakan isi buku lainnya yang ditulis oleh Winch. “Sepertinya saya sepakat dengan tindakanmu. Pilihan yang tepat. Winch juga menjelaskan demikian. Patah hati dalam konteks cinta romantis, benar-benar membuat kita memusatkan perhatian dengan rekasi hormon yang berlebihan kepada satu orang”, jelasku kepadanya, “Ini benar-benar seperti seorang pecandu narkoba yang saat kehilangan narkoba ia seperti orang gila yang dipaksa-paksa untuk menggunakan narkoba oleh pikirannya sendiri”.
Kita tahu bahwa tubuh kita mempunyai suatu sistem kerja yang menyembuhkan dirinya sendiri. Namun kalau diperhatikan kembali, sebenarnya pikiran kita mendorong kita untuk menghindari luka yang sama. Disinilah maksud Winch yang mengatakan kalau patah hati adalah mesin paradoks psikologis yang tiada habisnya. Saat luka fisik yang mempunyai sistem kerja menyembuhkan dirinya sendiri, justru patah hati bekerja sebaliknya. Paradoksnya terletak pada, semakin kelam pengalaman patah hati yang kita alami, semakin kuat dorongan kepada diri kita untuk tidak membuat kesalahan yang sama. Alhasil, pikiran kita menjaga luka patah hati itu tetap segar seperti saat pertama terjadi agar kita mengafirmasi diri untuk tidak melakukan hal yang sama. Ini justru memperparah diri kita, karena sebenarnya hal itu menyebabkan tidak ada yang sembuh.
“Setelah saya
pikir-pikir kembali, saat itu saya meyakinkan diri saya bahwa saya sangat
menyayangi diri saya”, ucap teman saya tersebut yang sedang mengingat-ingat
kembali masa-masa pemulihannya, “saya harus bersikap welas asih kepada diri
saya sendiri. Saya tidak harus menderita lebih lama lagi, saya harus percaya
diri untuk melewati semua fase yang menguras emosi ini”. Spontan saya tepuk
tangan atas pernyataannya tersebut. Teman saya pun menjadi tersanjung atas hal
tersebut. Saya pikir itu bukan pujian yang hanya bermaksud memberikan feedback
kepada curhatannya, tetapi itu merupakan respon alami yang saya lakukan karena
keputusan yang sangat tepat dibuat olehnya.
“Pada akhirnya, saya harus berjuang menghindari diri saya terjebak dalam sindrom patah hati”, tegasnya kepadaku, “saya akhirnya menyadari bahwa semuanya dimulai dari diri saya. Saya harus berani menghilangkan dampak dari patah hati yang pernah saya alami, dan berani terbuka dan menyayangi diri sendiri”, tutupnya percakapan kami berdua, dan ia mulai meminum kopi di hadapannya yang mulai habis. Saya berpikir bahwa ini pertemuan yang sangat menguntungkan bagi saya. Percakapan yang luar biasa, saya juga cukup menikmati percakapan ini. Saya sangat senang, jika banyak orang di sekitar saya mulai secara perlahan berdamai dengan dirinya sendiri, menerima kenyataan, dan membuka diri sendiri kepada dunia. Di akhir pembicaraan sebelum pulang, teman saya berucap kepada saya: “Saya tidak perlu takut lagi untuk memulai cinta yang baru, saya selalu yakin ada realitas yang dapat berpihak kepada saya. Memang cukup sulit untuk segera menemukan realitas yang saya maksud, tetapi kepercayaan diri saya mengantarkan saya tiba pada keyakinan akan datangnya hari yang paling saya idam-idamkan itu”.

0 komentar:
Posting Komentar