Minggu, 23 Oktober 2022

Sebuah Percakapan Yang Tidak Menyepelehkan Patah Hati #3



Sore itu di awal bulan Oktober. Seperti beberapa hari sebelumnya, hujan selalu datang lebih awal, saat semua orang sedang mengidam-idamkan langit sore beserta keindahan senjanya. Sepertinya warna jingga menjadi warna favorit bagi mereka yang menyukai keelokkan semesta. Sesaat setelah hujan mulai meredah, saya pun seketika melihat gawai milik saya yang menunjukkan ada sebuah pesan singkat dari seorang teman perempuan. Singkatnya pesan itu berisikan kabar darinya yang telah menunggu saya di sebuah kafetaria dengan maksud mengajak saya untuk bertemu sekaligus bercerita mengenai pengalaman hidupnya selama 4 tahun belakangan.

Wajar saja ia sangat bersemangat untuk pertemuan tersebut, karena kenyataannya dalam 4 tahun belakangan ini kami tidak bertemu satu sama lain. Hal ini disebabkan karena ia harus melanjutkan studi Sarjananya di luar kota. Serupa dengannya, saya menjadi bersemangat untuk menghadiri pertemuan tersebut, karena seingat saya bahwa teman saya tersebut terakhir kali bercerita dengan saya tentang berita diterimanya dia di sebuah kampus negeri terbaik. Di satu sisi, ia juga bercerita tentang seorang laki-laki yang menarik perhatiannya. Saya benar-benar penasaran tentang cerita yang ia bawa selama 4 tahun belakangan ini.

 4 tahun telah berlalu dan kini teman saya tersebut terlihat “ngebet” untuk bertemu dengan saya. Kediaman saya memang tidak cukup jauh dari tempat janjian kami untuk bertemu, tetapi waktu menjadi lama karena saya masih terdiam dan bertanya-tanya kepada diri sendiri perihal cerita-cerita seperti apa yang akan teman saya sampaikan. “Apakah ini tentang keberhasilannya dalam mencapai gelar Summa Cumlaude? Ataukah ini tentang berita baik darinya yang akan segera menikah? Ataukah ia mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya?”, tanya saya dalam hati. Saya menjadi sangat penasaran dengan pengalamannya selama 4 tahun belakangan ini. Saya seperti merasa bertemu dengan orang yang baru saya kenal, meski kenyataannya baik saya dan dia telah berteman selama 5 tahun.

 Setibanya saya di kafetaria tersebut, saya mendapatkan masalah baru. Ini seperti di beberapa sketsa komedi yang pernah saya nonton di setiap malamnya. Saya salah duduk di sebuah kursi yang saya pikir bahwa orang yang berada di seberang saya tersebut adalah teman saya. Ini cukup memalukan, tetapi saya berupaya menjaga harga diri di tengah-tengah keramaian kafetaria tersebut. Pada akhirnya, teman saya dengan cepat mengangkat tangannya seraya berkata “Hei, sebelah sini!”. Dengan gercep saya menghampirinya dan langsung duduk tanpa dipersilahkan. Maklum saya mencoba untuk tidak merasa canggung setelah kejadian barusan. “Apa kabar?”, tanyanya padaku. “Jika ada ungkapan yang lebih baik dari pada kata “baik” itu sendiri, sebenarnya aku ingin jadikan itu sebagai jawaban atas pertanyaanmu”, jawabku dengan humor sekaligus membangun suasana yang tidak terlalu canggung.

 Singkat cerita, percakapan kami pun dimulai. Dari saling tanya tentang pencapaian-pencapaian terkini hingga mengingat sejumlah peristiwa yang mengundang gelak tawa menjadi bagian yang menghangatkan percakapan kami. “Hei, beberapa bulan lalu sebelum datang ke kota ini, aku merasa buruk dengan kondisi psikologisku, tapi tenang aku sudah melewati semuanya, makanya sore ini aku bisa bercerita denganmu”. Dalam benakku, sebagai sebuah transisi percakapan, pernyataan yang ia sampaikan tersebut cukup bagus sekaligus aku ingin menebak-nebak arah pembicaraan ini. “Sepertinya ada yang baru sembuh dari patah hati”, kataku padanya. “Haha. Sepertinya dari dulu, tebak-tebakkanmu tidak pernah meleset”, timpalnya. “Kamu masih ingat laki-laki yang aku ceritakan 4 tahun lalu kepadamu?”, tanyanya padaku. “Iya. Bahkan perawakannya yang kamu gambarkan kepadaku, masih cukup jelas teringat”, jawabku kepadanya. “Sepertinya anugerah daya ingat yang kuat memang benar-benar ada padamu”, ujarnya.

 Dalam percakapan kami tersebut, saya menjadi paham kenapa ia harus mengangkat topik tentang pengalamannya sembuh dari patah hati sebagai salah satu topik utama dalam percakapan. Memang terlalu gila untuk digambarkan kalau saat kita mempunyai orang yang kita cintai ditambah dengan segudang citra baiknya di publik, ternyata memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan diri kita. Parahnya, belakangan kita pun akhirnya mengetahui kalau orang tersebut ternyata berselingkuh sebelum hubungan asmara yang kita bangun menjadi hancur tak tersisa. Ini merupakan salah satu kekejaman yang realitas sodorkan kepada kita. Seketika saya menjadi berempati kepada teman saya tersebut atas premis yang ia bangun di awal percakapan mengenai topik patah hati. Iya, benar, patah hati. Sebuah topik yang tidak dapat digilas oleh zaman. Jumlah umat manusia terus bertambah dan kecanggihan teknologi tidak dapat dibendung, tetapi persoalan patah hati sepertinya terus ada dengan pola yang sama

Apa yang diceritakan oleh teman saya tersebut nyatanya menjadi menarik setelah di saat sedang asik bercerita dengan ekspresi alami yang ia punya, saya perlahan-lahan mengingat sebuah buku yang berjudul How To Fix Broken Heart yang terbit pertama kali pada tahun 2018 – yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Bagaimana Menyembuhkan Patah Hati – karya dari Guy Winch seorang psikolog asal Amerika yang kerap menggeluti isu-isu kesehatan mental, termasuk patah hati. Saya belum lama ini telah menamatkan buku Winch tersebut dan memang berencana untuk mencari medium untuk dijadikan tempat berbagi isi buku itu. Tak dapat disangkal bahwa buku Winch –dengan sampul berwarna biru tersebut – memang menjadi salah satu buku yang menyita perhatiaan kebanyakan orang yang sedang ingin belajar menyembuhkan patah hati. Saya pikir cukup tepat untuk menyampaikan isi buku Winch tersebut di sela-sela percakapan kami, agar percakapan tersebut cenderung menjadi lebih produktif dan tidak hanya menjadi sebatas percakapan yang membosankan. Mari kita lihat seberapa relevannya isi buku yang ditulis oleh Winch tersebut dengan percakapan yang sedang dilakukan oleh kami berdua.

Kegagalan Sistem Pendukung

  Patah hati telah menjadi sesuatu yang menarik fokus banyak ilmuwan untuk menelitinya. Ratusan jurnal akademis terpublikasi dengan maksud memahami pola patah hati yang dialami oleh seorang manusia. Patah hati tidak mengenal identitas gender seseorang atau usia seseorang, ia benar-benar seperti Badai Katrina yang melahap seluruh yang dilewatinya dan memberikan dampak signifikan kepada korbannya. Lucunya, meski dianalogikan dengan bencana alam sekalipun, patah hati tetaplah masih menjadi topik yang remeh-temeh bagi beberapa orang. Setidaknya seperti itu yang ditegaskan oleh Winch dalam bukunya How To Fix Broken Heart. Tahapan pemulihan paling awal dari patah hati adalah kebutuhan akan dukungan sosial atau kekuatan dari sistem pendukung seperti: teman, sahabat, keluarga, dan lain sebagainya.

 Alih-alih berempati pada orang yang mengalami patah hati, justru yang dilakukan oleh kebanyakan dari orang-orang adalah menjadikan patah hati sebagai sesuatu yang tidak cukup layak untuk diangkat sebagai sebuah masalah. Parahnya, Winch mengatakan dalam bukunya tersebut bahwa beberapa dari kita menganggap patah hati – dalam konteks cinta romantis – adalah bagian identitas yang dilekatkan kepada remaja, bukan kepada orang dewasa. Paling tidak saya memahami bahwa Winch ingin menyatakan bahwa patah hati tidak boleh dianggap remeh begitu saja. Ini persoalan serius yang membutuhkan dukungan sosial dalam wujud empati guna menghasilkan pemulihan yang cepat.

 Dalam hal ini, teman saya dengan sedikit berlinang air mata pada matanya, berkata: “Di saat-saat aku membutuhkan orang-orang memberikan sedikit kasih sayang yang mereka punya. Justru yang aku terima seperti sebuah pengucilan atau lebih tepatnya pengabaian. Bahkan aku merasa semua orang hanya menginginkanku saat bahagia saja, tanpa pernah melihat sisi paling hancur dalam hidupku. Bukankah kebahagiaan dan kesediaan adalah sesuatu yang tidak dipisahkan dengan manusia? Bukankah itu salah satu yang membuat kita menjadi manusia sebagaimana mestinya?”. Merespon hal tersebut, saya berpikir bahwa orang patah hati sebenarnya tidak membutuhkan suatu kebutuhan materil, melainkan ia membutuhkan sentuhan immaterial untuk kesehatan mentalnya

“Hei, mereka seharusnya mulai menyadari ada dampak buruk yang dihadapi oleh beberapa orang saat sedang patah hati. Seperti yang dijelaskan oleh Winch dalam How To Fix Broken Heart bahwa patah hati itu dapat menimbulkan intensitas rasa sakit emosional hingga mengambil alih pikiran kita dan bahkan tubuh kita secara totalitas”, ucapku kepadanya untuk menanggapi curhatannya. “Sepertinya kamu barusan menyebutkan sebuah judul buku. Aku jadi tertarik untuk membacanya. Untuk berjaga-jaga agar tidak mengulangi cara pemulihan yang salah”, timpalnya. “Aku pikir, apa yang kamu sampaikan sebelumnya sangat erat kaitannya dengan kegagalan sistem pendukung”, kataku kepadanya. “Kegagalan sistem pendukung?. Sepertinya benar, tapi kegagalan sistem pendukung itu mungkin tidak hanya disebabkan karena mereka kurang berempati kepadaku tetapi boleh saja karena perilaku mendesak yang aku lakukan kepada mereka”, timpalnya.

 Kalau diingat kembali, apa yang dijelaskan oleh Winch dalam bukunya tersebut, saya memahami bahwa kegagalan sistem pendukung saat patah hati tidak hanya terjadi karena asumsi mereka yang mengabaikan orang patah hati atau kesalahan mereka yang kerap menyepelehkan tentang patah hati. Di lain sisi, ini juga berkaitan dengan apa yang kita (sebagai orang yang patah hati) lakukan kepada mereka. Lebih tepatnya menurut Winch ini berkaitan dengan cara kita yang kerap membebani sistem pendukung kita sendiri. Sistem pendukung kita telah datang dengan empati yang paling lembut dari mereka punya dan kasih sayang yang paling halus dari mereka punya, tetapi kita terlalu membebani mereka dengan banyak efek riak-riak saat patah hati. Jika sebagai respon wajar, sepertinya hal itu tidak menjadi masalah. Namun, kalau diulang-ulang dalam waktu yang relatif lama, mereka justru akan merasa terbebani. Menurut Winch, ini bukan berarti kita harus menghilangkan kebutuhan emosional kita dari empati dan kasih sayang, tetapi kita juga harus menjadi tanda untuk mengawasi diri sendiri agar tidak terlalu membebani sistem pendukung yang kita miliki. 

 “Saya kerap mengirim pesan kepada mereka untuk mendengar keluhan saya”, ujar teman saya tersebut, “atau setidaknya setiap 3 malam sekali, tepat di jam 12 malam, saya menghubungi salah satu dari mereka untuk mendengarkan suara tangisan saya”. Tampaknya kegagalan sistem pendukung disebabkan oleh dua arah, setidaknya-tidaknya dalam tahapan pertama untuk memulihkan seseorang dari patah hati, baik kita dan sistem pendukung harus benar-benar saling memahami satu sama lain. Sistem pendukung harus memahami bahwa saat kita sedang patah hati, kita hanya butuh empati dan kasih sayang. Sedangkan dari sisi kita, ada suatu keharusan untuk memberikan ruang kepada sistem pendukung untuk mengaktualisasikan rasa empati dan kasih sayang yang mereka punya tanpa ada tendensi untuk membebani mereka.

Semuanya Berawal Dari Diri Sendiri

“Patah hati adalah mesin paradoks psikologis yang tiada habisnya”, kata Winch dalam bukunya. Saya sepakat dengan hal itu, dimana pada kenyataannya kalau kita memperhatikan bahwa keinginan kita untuk mengakhiri penderitaan emosional yang disebabkan oleh patah hati tidak berbanding lurus dengan dorongan pikiran kita yang memanjakan perilaku kita untuk kembali dan kembali ke situasi ideal yang kita inginkan. Padahal kita dituntut untuk memulai semuanya dengan perasaan lebih terbuka dan berani menyatakan kepasrahan atas apa yang terjadi. Kepasrahan ini bukan berarti upaya pelemahan diri, tetapi ini menjadi langkah awal untuk kita memulih diri atau tepatnya menyembuhkan diri dari patah hati.

“Semua itu saya mulai dengan membatasi interaksi dengan dirinya dan membiasakan diri untuk tidak memaknai lagu Tulus yang berjudul Hati-Hati Di Jalan secara berlebihan”, ucap teman saya yang menjelaskan awal dia mulai memulihkan dirinya, “membiasakan untuk menerima keadaan baru, berhenti menguntit dirinya, membuang semua perasaan yang saya damba-dambakan kepadanya. Saya ingin mental saya membaik. Orang-orang yang datang berempati kepada saya memberikan saya kekuatan untuk menghentikan dorongan dari pikiran saya untuk tetap candu kepadanya. Ini sulit, tapi semuanya berawal dari diri saya sendiri”. Setelah dia mengucapkan hal tersebut, saya menjadi cukup percaya diri untuk mengatakan isi buku lainnya yang ditulis oleh Winch. “Sepertinya saya sepakat dengan tindakanmu. Pilihan yang tepat. Winch juga menjelaskan demikian. Patah hati dalam konteks cinta romantis, benar-benar membuat kita memusatkan perhatian dengan rekasi hormon yang berlebihan kepada satu orang”, jelasku kepadanya, “Ini benar-benar seperti seorang pecandu narkoba yang saat kehilangan narkoba ia seperti orang gila yang dipaksa-paksa untuk menggunakan narkoba oleh pikirannya sendiri”.

Kita tahu bahwa tubuh kita mempunyai suatu sistem kerja yang menyembuhkan dirinya sendiri. Namun kalau diperhatikan kembali, sebenarnya pikiran kita mendorong kita untuk menghindari luka yang sama. Disinilah maksud Winch yang mengatakan kalau patah hati adalah mesin paradoks psikologis yang tiada habisnya. Saat luka fisik yang mempunyai sistem kerja menyembuhkan dirinya sendiri, justru patah hati bekerja sebaliknya. Paradoksnya terletak pada, semakin kelam pengalaman patah hati yang kita alami, semakin kuat dorongan kepada diri kita untuk tidak membuat kesalahan yang sama. Alhasil, pikiran kita menjaga luka patah hati itu tetap segar seperti saat pertama terjadi agar kita mengafirmasi diri untuk tidak melakukan hal yang sama. Ini justru memperparah diri kita, karena sebenarnya hal itu menyebabkan tidak ada yang sembuh. 

“Setelah saya pikir-pikir kembali, saat itu saya meyakinkan diri saya bahwa saya sangat menyayangi diri saya”, ucap teman saya tersebut yang sedang mengingat-ingat kembali masa-masa pemulihannya, “saya harus bersikap welas asih kepada diri saya sendiri. Saya tidak harus menderita lebih lama lagi, saya harus percaya diri untuk melewati semua fase yang menguras emosi ini”. Spontan saya tepuk tangan atas pernyataannya tersebut. Teman saya pun menjadi tersanjung atas hal tersebut. Saya pikir itu bukan pujian yang hanya bermaksud memberikan feedback kepada curhatannya, tetapi itu merupakan respon alami yang saya lakukan karena keputusan yang sangat tepat dibuat olehnya.

 Dalam suatu sub bab, dalam bukunya, Winch sangat menekankan pada perubahan diri sendiri untuk melawan gejolak emosional selama patah hati. Semua empati yang datang seharusnya dapat dikonversi menjadi kekuatan welas asih kepada diri sendiri. Dari welas asih inilah kita mulai mencari cara paling kreatif untuk menyembuhkan diri kita. Paling tidak Winch dalam bukunya menekankan lagi pentingnya mencari sebanyak-banyak cara untuk memperluas welas asih kepada diri sendiri sebagai upaya untuk memulihkan diri dari patah hati. Hal ini yang disinggung oleh Winch dalam bukunya – dengan istilah lainnya – yaitu “self-compassion”. Dalam bukunya juga, Winch menyarankan kepada para pembaca untuk dapat melakukan salah satu cara dalam menyembuhkan diri dari patah hati, yaitu menggunakan mindfulness. Sebuah meditasi yang berfokus untuk merespon emosi negatif dalam diri dengan terbuka. Tujuan dari mindfulness adalah membuang seluruh emosi negatif yang ada pada diri kita, dan mengembalikan suasana positif secara emosional dan psikis

“Pada akhirnya, saya harus berjuang menghindari diri saya terjebak dalam sindrom patah hati”, tegasnya kepadaku, “saya akhirnya menyadari bahwa semuanya dimulai dari diri saya. Saya harus berani menghilangkan dampak dari patah hati yang pernah saya alami, dan berani terbuka dan menyayangi diri sendiri”, tutupnya percakapan kami berdua, dan ia mulai meminum kopi di hadapannya yang mulai habis. Saya berpikir bahwa ini pertemuan yang sangat menguntungkan bagi saya. Percakapan yang luar biasa, saya juga cukup menikmati percakapan ini. Saya sangat senang, jika banyak orang di sekitar saya mulai secara perlahan berdamai dengan dirinya sendiri, menerima kenyataan, dan membuka diri sendiri kepada dunia. Di akhir pembicaraan sebelum pulang, teman saya berucap kepada saya: “Saya tidak perlu takut lagi untuk memulai cinta yang baru, saya selalu yakin ada realitas yang dapat berpihak kepada saya. Memang cukup sulit untuk segera menemukan realitas yang saya maksud, tetapi kepercayaan diri saya mengantarkan saya tiba pada keyakinan akan datangnya hari yang paling saya idam-idamkan itu”.


Sabtu, 03 September 2022

Menjadi Yang Terbaik Dimatanya (Meski Sulit) #2

Bagimana menjadi yang terbaik? Iya betul dengan mencintainya sepenuh hati. Meski akhirnya tdak bersama atau berjodoh tapi kita akan selalu mendapat tempat terindah dihatinya heheh.. Kita akan selalu mencintainya dengan setulus hati, setia disampingnya, Mendengarkan segala kelukesahnya karna begitulah memang adanya perempuan dia tidak butuh teori2nya kita, tidak butuh adu kepintaran cukup dengarkan, karena terkdang mereka tidak butuh jalan keluar dari masalah yang dihdapinya, tapi mereka hanya ingin didengar. Meski pada akhirnya kita tersadar dia bukan cinta sejatinya kita.


Apa pun yang kita lakukan sekalipun itu baik, mungkin belum tentu baik menurut mata orang lain atau Si Dia wkwkw. Tapi, ini bukan alasan untuk behenti berbuat baik, bukan? Karena kenapa berbuat baik Dan kebaikan adalah fitrah dasarnya kita sebagai manusia, mungkin saat ini dia tidak tersentuh dengan apa yang kita lakukan untuknya tapi percayalah suatu saat dia akan menyadari Bahwa semua yang kita lakukan itu tulus

"Sebaik baiknya kita, kita Tidak akan pernah bisa membahagiakan semua orang, karena tidak ada yang bisa mengubah sesorang kecuali dirinya sendiri"

Pernahkah kita mencampakkan seseorang Yang begitu baik dan tulus meski hanya sekali? Beberapa tahun kemudian tanpa sengaja sosok tersebut terlintas dipikiran dan hatimu? Akhirnya dalam renungan itu kita menyadari bahwa dia adalah orang yang terbaik. Ohh tentu inu akan emnjadi penyesalan yang sangat dalam, apalagi kalau si dia telah bahagia bersama orang lain, Dan kita tidak dapa memutar waktu. 

"Sering kita melewatkan cinta sejati hanya untuk mencoba mencari yang terbaik atau mencari yang lebih dari apa yang kita miliki saat ini, walaupun kita akhirnya tersadar Bahwa ia yang dalu bersama kita tetaplah menjadi yang terbaik dihati"

Begitu banyak orang yang pernah mengalami seperti ini, orang orang yang tulus dicampakkan, ditinggalkan, Tidak dianggap, dan bisa jadi akan menjadi  penyesalan serta kenangan terindah bagi mereka yang meninggalkan. 

Kita Yang selalu menyeka air matanya, Kita yang selalu membasuh keringatnya, Kita yang selalu memeluknya saat rapuh. Sangat mustahil jika hatinya tidak menyimpan kenangan luar biasa tersebut. Iya... Mungkin beberapa saat Ia dapat melupakannya dan terus mencoba untuk melupakan, tapi hati dan pikiran tidak semudah itu untuk melupakan. Karena segala cinta yang diberikan secara tulus akan selalu terpati dalam hatinya..


Jumat, 19 Agustus 2022

Hidup Itu Pilihan #1

    Waktu Terus berlalu tidak terasa sudah 4 tahun lamanya saya berada di Makassar, beberapa ada yang bilang sudah 5 tahun, betapa relativnya sang waktu. Satu hal yang pasti adalah rasa syukur Alhamdulillah telah menyelesaikan studi saya dalam waktu 3 tahun 10 bulan di program studi Manajemen, Universitas Negeri Makassar dengan hasil memuaskan, Mama dan Bapak ini Untukmu.

Finally, setelah perjuangan selama hampir 4 tahun untuk wisudanya sendiri pada saat itu di bulan agustus diadakan secara daring ini adalah pertama kalinya dalam sejarah kampus UNM melaksanakan wisuda secara daring karena kondisi pandemi Covid-19 waktu itu, namun itu tidak mengurangi kesakralan wisuda yang jelas secara de facto dan de jure saya telah lulus, heheh.

Betapa cepat waktu berlalu, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya dan tidak akan pernah kembali. saya masih ingat betul sekitar 4 tahun yang lalu saat menerima email perihal pengumuman kelulusan SNMPTN, dengan cukup cemas dan antusias saya membuka pengumuman kelulusan itu di website dan alangkah bahagianya saya pada saat itu, syukur Alhamdulillah saya diterima Masuk kampus Universitas Negeri Makassar

Saat itu perasaan campur aduk antara senang, sedih dan bimbang. senang karena impian untuk belajar Manajemen di kampus Impian Tercapai, sedih karena harus pisah dari keluarga, dan bimbang karena masih tidak yakin 100% untuk berangkat ke Makassar, keluarga juga seperti berat melepas saya.

Tapi saya sepenuhnya sadar bahwa hidup itu pilihan. kita harus berani meninggalkan zona nyaman kita, karena tidak ada pertumbuhan di zona nyaman dan tidak ada kanyamanan di zona pertumbuhan, kita harus meninggalkan zona nyaman untuk terus  berkembang.

Saat itu saya dihadapkan 2 pilihan. pertama, berangkat kemakassar dan meninggalkan zona nyaman saya jika ingin tumbuh dan berkembang. Kedua, tetap berada dizona nyaman tapi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang akan hilang. Kalau ikut kata hati ingin berada di zona nyaman tapi bisa tetap tumbuh dan berkembang. tapi tidak mungkin ada kondisi ideal seperti itu toh? tidak mungkin segala sesuatu didunia ini berjalan 100% sesuai kehendak kita, untuk mendapatkan sesuatu kita harus mengorbankan sesuatu. 

Akhirnya saya memilih opsi kedua, meninggalkan zona nyaman untuk berjuang mengejar mimpi saya. seperti seorang prajurit yang berperang dan kapalnya sudah dibakar oleh musuh. saat itu tidak ada lagi jalan mundur ke belakang dan satu-satunya jalan adalah maju kedepan. saat saya sudah memutuskan opsi kedua, maka saya berkewajiban untuk menyelesaikannya dengan baik.

Makassar 19 Agustus 2022

Reski Putra Utama, S.M

Ig : @rskprtmaaa__     Email : utamareskiputa@gmail.com